Multi Budaya Kekuatan Memenangkan Perang Otak

Oct 05, 2011 by

Juwono Sudarsono, Mantan Menteri Pertahanan dan sekarang duduk sebagai Ketua Yayasan Universitas Presiden mengatakan, rata-rata pendidikan dasar, menengah & tinggi di Indonesia masih perlu ditingkatkan mutunya. Kita dulu sepakat sejak Bung Karno sampai sekarang pendidikan harus merakyat dari sabang sampai merauke. Tidak semua daerah memiliki akses teknologi informasi yang sama, informasi lewat radio, televisi dan akses internet  terbatas pada yang memiliki jaringan listrik.

Menurut Juwono, tantangan yang kita lihat tetapi tidak tampak adalah perang ilmu pengetahuan, perang otak, perang visi keunggulan, perang inovasi.  Di China, Vietnam, Taiwan, Jepang, Singapura dan Indonesia juga terkena dampaknya, terutama Singapura yang merupakan pesaing terdekat kita. Singapura adalah negera kota yang hidup dari otaknya, karena mereka tidak memiliki sumber daya alam. Kita harus bisa kejar itu, juga kejar China & India, karena kita punya budaya yang begitu kaya, setiap potensi yang ada di tanah air harus kita manfaatkan. Kita harus percaya diri bahwa kita tidak kalah, termasuk dengan bangsa-bangsa Eropa.

Untuk memenangkan perang ini, Juwono meminta semua pihak harus terlibat termasuk institusi pendidikan seperti President University. Karena letaknya di Jababeka simpang dari pertemuan budaya-budaya yang beradab di Jawa Barat dan dekat ibu kota. Kita ciptakan identitas President University yang multi kultural, multi agama dan multi peradaban. Negara kita sejak dulu dipengaruhi oleh peradaban Hindu, Budha, Islam, Barat dan Konghuchu. Sekarang campuran dari tantangan peradaban China, India, Jepang, semuanya ada di sini tinggal membangun kepercayaan diri sebagai bangsa Bhinneka Tunggal Eka, bahwa kita bersatu dan berani berhadaban dengan peradaban-peradaban yang lain.

Juwono menilai, persemaian indah dari perdaban dunia ada di President University, kita manfaatkan itu kalau kita berani bertarung dalam perbedaan tetapi tetap dalam Bhinneka Tunggal Eka, ini berkah untuk kita memanfaatkan. Kita harus berani menggali sesuatu yang ada di diri kita masing-masing, ada sesuatu yang lebih yang bisa dicetuskan. Kita adalah peradaban yang toleran, percaya diri, apakah itu lonceng gereja, adzan subuh, klenteng, vihara, semua itu bagian dari wawasan kita masing-masing bukan terkotak-kotak. Untuk itu kita bukan Negara Islam, Negara arab, Negara hindu, Negara Kristen, semuanya adil. Masing-masing itu mau percaya kebinnekaan itu, kita tidak tersekat-sekat menurut suku, agama. Kita manfaatkan yang dulu debut Bung Karno Taman sari.

President University ibarat dunia kecil, dalam mewujudkan sebuah generasi penerus yang toleran, kita mendatangkan siswa-siswa dari seluruh pelosok tanah air, karena di sini tempat untuk mempercaya diri dalam bidang budaya, sekaligus mengisi ulang keindonesiaan yang dicetuskan pada 1908, 1928, 1945 kalau kita tidak berdasarkan satu suku, agama, peradaban, daerah, tetapi semua orang Indonesia member manfaat dan memperkaya budaya yang satu dengan yang lain, termasuk menyumbang kepada peradaban dunia. Di China masih tergantung satu suku Han, di India dominan orang Hindu, sedangkan kita semuanya memperkaya. Kita satu-satunya Negara Non Muslim yang merayakan hari-hari besar agama lain sebagai hari nasional, ini sebagai nilai toleransi.

Dalam implementasinya, President University merekrut dosen-dosen yang multi cultural dan multi nasional, karena Negara ini terlalu besar jika hanya berpaling pada satu peradaban saja, semuanya harus ada. Sejak 500 tahun yang lalu kita pertemuan antara barat dan timur, antara china dan india, antara jepang dan barat, antara timur tengah dan Persia. Kita buktikan bahwa persemaian Indah ini, sesuatu yang lebih dari Negara aslinya. Secara material kita harus perbaiki harkat dan martabat ekonomi orang-orang yang terpuruk. Sekaya-kayanya kita mendengungkan toleransi, itu harus didukung dengan perbaikan material, sandang, pangan dan papan. Bangsa yang besar adalah bangsa yang memperhatikan orang-orang kecilnya.

Sekitar 40 juta lebih orang Indonesia di bawah garis kemiskinan, ini juga PR bagi dunia pendidikan karena mereka tidak bisa sejahtera karena pendidikannya rendah. Kita harus kembangkan teknologi menengah, dan usaha kecil menengah. Karena itu tulang punggung, tidak semua orang bisa menguasai teknologi tinggi, sehingga kita pusatkan kepada teknologi menengah, yakni pangan, air, kayu, lingkungan hidup harus sesuai dengan kemampuan masyarakat. Meski Negara ini bukan Negara islam namun karena mayoritas beragama islam maka harus bernafaskan islam, tetapi tetap diperkaya oleh budaya lain.

President University mendidik ketrampilan yang siap untuk kerja khususnya di manufaktur.  Keunggulan dari Jababeka adalah adanya pabrik-pabrik dan itu memberikan sesuatu yang tidak diajarkan tetapi dimagangkan melalui kerja. Kelebihan dari President University adalah memberikan pekerjaan kepada anak muda, jangan hanya memberikan ilmu yang tinggi.

Terkait regulasi pemerintah kita hormati, tetapi jangan terlalu mengandalkan, karena terkadang kita harus menrabas peraturan yang mengkungkung, pikiran-pikiran yang kreatif itu melintasi aturan-aturan, karena aturan-aturan diciptakan untuk membatasi dan mempertahankan kekuasaan.

Dalam melahirkan pemimpin, kita hanya menyediakan sarana dan prasarana dan lingkungan . jadi pada akhirnya orang itu sendiri yang menentukan apakah dia bisa atau tidak bertindak sebagai pemimpin. Kepemimpinan itu tidak bisa diajarkan, hanya bisa dipersiapkan bahan-bahannya, sarananya, dosen-dosennya. Apakah seseorang itu bisa jadi pemimpin tergantung jalur hidupnya atau garis tangan, itu dapat diuji jika turun ke lapangan. Kita lulus bertemu dengan fakta yang dihadapi, apakah kita bisa inovator atau organisator.

Kita harus mengajarkan untuk bersikap terhadap perbedaan kepentingan, tetapi sebagai bangsa harus ada satu titik sebagai satu kesatuan tujuan, dan ini tugas dari seorang pemimpin, jangan terlalu demokratis, tetapi juga jangan terlalu kaku, coba meramu dua hal itu supaya setiap tahap pembangunan bangsa harus ada perbedaan dan juga persamaan.

Source: Cikarang Post

Artikel